Cari Blog Ini
Jumat, 09 Desember 2011
Proyek Tol Cisumdawu Minim Sosialisasi
Jumat, 09 Desember 2011
Proyek Tol Cisumdawu Minim Sosialisasi
JATINANGOR,(GM)-
Sejumlah kalangan menilai proyek Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) minim sosialisasi. Banyak warga Jatinangor hingga saat ini belum mengetahui kelanjutan proyek tersebut. Sementara di Tanjungsari, meski sempat dilakukan sosialisasi, namun berkas kepemilikan lahan yang akan terkena proyek tersebut masih dalam proses.
Sebanyak 53 berkas kepemilikan tanah yang akan terkena pembebasan lahan di Desa Margaluyu, Kec. Tanjungsari, Kab. Sumedang, hingga Kamis (8/12) masih dalam proses. Pemberkasan akan diselesaikan pihak staf pemberkasan bantuan teknik pembebasan lahan dengan masyarakat pemilik.
"Karena masih ada kendala dalam pemberkasan, kepemilikan lahan sebanyak itu belum bisa dilepaskan. Di Desa Margaluyu, sekitar 15,8 hektare yang akan terkena pembebasan lahan untuk pembangunan Tol Cisumdawu. Sisanya sebanyak 43 berkas sudah selesai dan sudah siap dilepaskan," kata staf pemberkasan Bantuan Teknis Pembebasan Lahan Tol Cisumdawu, Ovi kepada wartawan di sela-sela pemberkasan tanah dengan para pemilik lahan di Desa Margaluyu, Kamis (8/12).
Ovi mengatakan, karena masih dalam proses pemberkasan, pembayarannya pun belum dilakukan. Ia mengatakan, pemerintah atau panitia pembebasan lahan bukan berarti menghambat pembayaran, karena persoalannya dalam pemberkasan tanah masih ada kendala dan masalah di lapangan. Misalnya, yang masih kendala dalam perberkasan itu dalam hal kepemilikan surat letter C.
"Kita yang memproses pemberkasan harus betul-betul dalam pengurusannya. Jangan sampai ada gugatan di kemudian hari setelah tanah itu dibebaskan. Sebenarnya, kita tidak mempersulit dalam pemberkasan. Namun kita harus yakin betul, tanah yang dibeli Bina Marga itu langsung dari pemiliknya. Kalaupun tanah itu sudah turun ke ahli waris dan dijual kepada pihak lain, harus ada bukti-buktinya. Hal itu untuk meyakinkan kepemilikan tanah yang akan dilepas," kata Ovi.
Ia mengatakan, kepemilikan lahan yang masih ada kendala dalam pemberkasan itu, karena harus melewati pemeriksaan di tingkat Badan Pertanahanan Nasional (BPN). Karena BPN adalah bagian dari tim atau satgas dalam pemberkasan tanah. (B.105)**
Sabtu, 26 November 2011
Lahan Pertanian di Jawa KIan Menyusut
BANDUNG - Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan lahan produksi padi di Indonesia terus mengalami penurunan. Penurunan lahan padi di Jawa saja mencapai 27 ribu hektar per tahunnya
Direktur statistik tanaman pangan hortikultural dan palawija BPS Ardief achmad mengatakan dengan terus berkurangnya lahan produksi menjadi salah satu faktor menurunnya hasil produksi padi.
Dari Okezone.com
"Ini sebenarnya harus menjadi perhatian pemerintah, di Jawa saja sekitar 27ribu hektar lahan hilang pertahunnya," jelas Ardief dalam acara Workshop Wartawan 2011 di Bandung, Sabtu (26/11/2011)
Lebih lanjut dia mengatakan, untuk mengatasi permasalahan ini memang bukan pekerjaan gampang, namun walaupun demikian dia mengatakan Indonesia harus tetap swasembada pangan karena Indonesia tidak bisa terus bergantung dengan impor.
"Pencetakan lahan sawah baru ini tidak mudah. Tapi kita harus swasembada pangan, lihat saja Thailand sekarang banjir" pungkasnya.
Sebagaimana diketahui produksi padi Indonesia pada tahun 2011 diramal BPS akan berkurang sekitar 1,08 juta ton. Dan hal ini disebabkan terus berkurangnya lahan dan faktor cuaca pada tahun 2011.
"Angka ramalan III (ARAM) BPS, produksi padi pada tahun 2011 akan berkurang sekitar 1,08 juta ton," ucap Ardief. (nia) (rhs)
Kamis, 24 November 2011
Orang Indonesia Suka Makan Tempe, Tapi Tidak Suka Menanam Kedelai
Sebagian masyarakat Indonesia suka makan tempe, tetapi hampir sebagian besar petani di negeri ini tidak mau menanam kedelai. Alasan mereka, harga jual kedelai tidak pernah memberi keuntungan yang signifikan, bahkan terkadang harga di pasaran terpuruk.
Petani Indonesia cenderung memilih menanam tanaman pertanian lainnya yang lebih menguntungkan, seperti beras dan tembakau.
Inilah orang Indonesia, menyukai sesuatu, tapi tidak mau menanamnya.
Sehingga menjadi kesempatan bagi orang asing untuk dapat menjual kedelai dengan "Harga Yang Pantas"
Yah... semoga kedepan Banyak Petani Yang Menanam Kedelai dan Menjadi Kaya Raya...
Petani Indonesia cenderung memilih menanam tanaman pertanian lainnya yang lebih menguntungkan, seperti beras dan tembakau.
Inilah orang Indonesia, menyukai sesuatu, tapi tidak mau menanamnya.
Sehingga menjadi kesempatan bagi orang asing untuk dapat menjual kedelai dengan "Harga Yang Pantas"
Yah... semoga kedepan Banyak Petani Yang Menanam Kedelai dan Menjadi Kaya Raya...
Sabtu, 19 November 2011
Hebohnya Pendukung Thailand
Liputan6.com, Palembang: Kawasan kompleks olahraga Jakabaring Sport City (JSC) Jakabaring, Palembang, Sumatra Selatan, selama SEA Games XXVI berlangsung penuh dengan para suporter. Dan dominasinya tentu saja dari Indonesia. Tapi bukan berarti tak ada suporter lain.
Contohnya seperti yang dilakukan tiga warga Thailand di sebuah venue. Ketiga terus mendukung atlet-atlet mereka dengan kostum dan aksi-aksi lucu. Hal itu dilakoni Samarat Khunsawat, Parinya Weerawong, dan Sompong Katheew. Keduanya rela datang jauh-jauh dari negeri Gajah Putih menuju Palembang.
Tabuhan klongcheer, genderak sorak asal Thailand meramaikan suasana. Tak henti-henti mereka bergoyang dan bernyanyi untuk memberikan semangat. Tak hanya untuk Thailand, tapi juga untuk tuan rumah Indonesia.
Kecintaan mereka terhadap negara juga membuat mereka telah melanglang buana ke negara-negara yang menyelenggarakan event-event olahraga besar. Seperti salah satunya SEA Games di Indonesia ini.
Ulah Samarat dan kawan-kawan tak jarang membuat supporter Indonesia yang sedang harap-harap cemas menantikan kemenangan, ikut terhibur.(AIS)
Contohnya seperti yang dilakukan tiga warga Thailand di sebuah venue. Ketiga terus mendukung atlet-atlet mereka dengan kostum dan aksi-aksi lucu. Hal itu dilakoni Samarat Khunsawat, Parinya Weerawong, dan Sompong Katheew. Keduanya rela datang jauh-jauh dari negeri Gajah Putih menuju Palembang.
Tabuhan klongcheer, genderak sorak asal Thailand meramaikan suasana. Tak henti-henti mereka bergoyang dan bernyanyi untuk memberikan semangat. Tak hanya untuk Thailand, tapi juga untuk tuan rumah Indonesia.
Kecintaan mereka terhadap negara juga membuat mereka telah melanglang buana ke negara-negara yang menyelenggarakan event-event olahraga besar. Seperti salah satunya SEA Games di Indonesia ini.
Ulah Samarat dan kawan-kawan tak jarang membuat supporter Indonesia yang sedang harap-harap cemas menantikan kemenangan, ikut terhibur.(AIS)
Fenomena Daerah Transisi
Ketika kita mula dekat dengan sesuatu hal yang kita sukai. Tetapi masa itu harus terhenti, karena sebuah masa yang transisi.
Perubahan kondisi Lingkungan dan Perubahan Kondisi Sosial kadang membawa kita larut didalamnya untuk terus tergerus arus yang tidak jelas, dan tinggal menunggu waktu kapan kita akan tenggelam. Harusnya kita dapat memberikan warna yang terang dan jelas pada lingkungan ini, apa boleh buat, percepatan lingkungan berbading miris dengan percepatan kedewasaan masyarakatnya.
Banyak Nilai Luhur Kemanusiaan yang mulai pudar dan akan sepertinya akan ditinggalkan. Semua harus bernilai materi, uang dan uang... Tidak ada yang gratis katanya....
Tapi disisi lain dan di lain waktu mereka menanyakan, mana gratisannya?
Individualistis semakin jelas dan nyata. Mari kita mulai berintrospeksi diri, dengan apa yang terjadi pada diri sendiri dan Lingkungan kita... Selamat Bermuhasabah......
Perubahan kondisi Lingkungan dan Perubahan Kondisi Sosial kadang membawa kita larut didalamnya untuk terus tergerus arus yang tidak jelas, dan tinggal menunggu waktu kapan kita akan tenggelam. Harusnya kita dapat memberikan warna yang terang dan jelas pada lingkungan ini, apa boleh buat, percepatan lingkungan berbading miris dengan percepatan kedewasaan masyarakatnya.
Banyak Nilai Luhur Kemanusiaan yang mulai pudar dan akan sepertinya akan ditinggalkan. Semua harus bernilai materi, uang dan uang... Tidak ada yang gratis katanya....
Tapi disisi lain dan di lain waktu mereka menanyakan, mana gratisannya?
Individualistis semakin jelas dan nyata. Mari kita mulai berintrospeksi diri, dengan apa yang terjadi pada diri sendiri dan Lingkungan kita... Selamat Bermuhasabah......
Langganan:
Postingan (Atom)
