Cari Blog Ini

Sabtu, 26 November 2011

Lahan Pertanian di Jawa KIan Menyusut


BANDUNG - Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan lahan produksi padi di Indonesia terus mengalami penurunan. Penurunan lahan padi di Jawa saja mencapai 27 ribu hektar per tahunnya

Direktur statistik tanaman pangan hortikultural dan palawija BPS Ardief achmad mengatakan dengan terus berkurangnya lahan produksi menjadi salah satu faktor menurunnya hasil produksi padi.
Dari Okezone.com
"Ini sebenarnya harus menjadi perhatian pemerintah, di Jawa saja sekitar 27ribu hektar lahan hilang pertahunnya," jelas Ardief dalam acara Workshop Wartawan 2011 di Bandung, Sabtu (26/11/2011)

Lebih lanjut dia mengatakan, untuk mengatasi permasalahan ini memang bukan pekerjaan gampang, namun walaupun demikian dia mengatakan Indonesia harus tetap swasembada pangan karena Indonesia tidak bisa terus bergantung dengan impor.

"Pencetakan lahan sawah baru ini tidak mudah. Tapi kita harus swasembada pangan, lihat saja Thailand sekarang banjir" pungkasnya.

Sebagaimana diketahui produksi padi Indonesia pada tahun 2011 diramal BPS akan berkurang sekitar 1,08 juta ton. Dan hal ini disebabkan terus berkurangnya lahan dan faktor cuaca pada tahun 2011.

"Angka ramalan III (ARAM) BPS, produksi padi pada tahun 2011 akan berkurang sekitar 1,08 juta ton," ucap Ardief. (nia) (rhs)

Kamis, 24 November 2011

Orang Indonesia Suka Makan Tempe, Tapi Tidak Suka Menanam Kedelai

Sebagian masyarakat Indonesia suka makan tempe, tetapi hampir sebagian besar petani di negeri ini tidak mau menanam kedelai. Alasan mereka, harga jual kedelai tidak pernah memberi keuntungan yang signifikan, bahkan terkadang harga di pasaran terpuruk.

Petani Indonesia cenderung memilih menanam tanaman pertanian lainnya yang lebih menguntungkan, seperti beras dan tembakau.

Inilah orang Indonesia, menyukai sesuatu, tapi tidak mau menanamnya.

Sehingga menjadi kesempatan bagi orang asing untuk dapat menjual kedelai dengan "Harga Yang Pantas"

Yah... semoga kedepan Banyak Petani Yang Menanam Kedelai dan Menjadi Kaya Raya...

Sabtu, 19 November 2011

Hebohnya Pendukung Thailand

Liputan6.com, Palembang: Kawasan kompleks olahraga Jakabaring Sport City (JSC) Jakabaring, Palembang, Sumatra Selatan, selama SEA Games XXVI berlangsung penuh dengan para suporter. Dan dominasinya tentu saja dari Indonesia. Tapi bukan berarti tak ada suporter lain.

Contohnya seperti yang dilakukan tiga warga Thailand di sebuah venue. Ketiga terus mendukung atlet-atlet mereka dengan kostum dan aksi-aksi lucu. Hal itu dilakoni Samarat Khunsawat, Parinya Weerawong, dan Sompong Katheew. Keduanya rela datang jauh-jauh dari negeri Gajah Putih menuju Palembang.

Tabuhan klongcheer, genderak sorak asal Thailand meramaikan suasana. Tak henti-henti mereka bergoyang dan bernyanyi untuk memberikan semangat. Tak hanya untuk Thailand, tapi juga untuk tuan rumah Indonesia.

Kecintaan mereka terhadap negara juga membuat mereka telah melanglang buana ke negara-negara yang menyelenggarakan event-event olahraga besar. Seperti salah satunya SEA Games di Indonesia ini.

Ulah Samarat dan kawan-kawan tak jarang membuat supporter Indonesia yang sedang harap-harap cemas menantikan kemenangan, ikut terhibur.(AIS)

Fenomena Daerah Transisi

Ketika kita mula dekat dengan sesuatu hal yang kita sukai. Tetapi masa itu harus terhenti, karena sebuah masa yang transisi.

Perubahan kondisi Lingkungan dan Perubahan Kondisi Sosial kadang membawa kita larut didalamnya untuk terus tergerus arus yang tidak jelas, dan tinggal menunggu waktu kapan kita akan tenggelam. Harusnya kita dapat memberikan warna yang terang dan jelas pada lingkungan ini, apa boleh buat, percepatan lingkungan berbading miris dengan percepatan kedewasaan masyarakatnya.

Banyak Nilai Luhur Kemanusiaan yang mulai pudar dan akan sepertinya akan ditinggalkan. Semua harus bernilai materi, uang dan uang... Tidak ada yang gratis katanya....

Tapi disisi lain dan di lain waktu mereka menanyakan, mana gratisannya?

Individualistis semakin jelas dan nyata. Mari kita mulai berintrospeksi diri, dengan apa yang terjadi pada diri sendiri dan Lingkungan kita... Selamat Bermuhasabah......

Jumat, 18 November 2011

Kekerasan di Masyarakat

faktor apakah yang mendorong timbulnya kekerasan di masyarakat?
Secara sederhana, kekerasan antara dua atau lebih pihak disebabkan oleh kepentingan bersama (common interets) dari pihak berkepentingan yang tidak terakomodasi.
Kekerasan (violence) tumbuh karena tingkat ekspektasi tidak sejalan dengan realitas yang dialami. Karena frustrasi dan deprivasi di masyarakat serta tidak ditemukan saluran formalnya, maka bentrokan terjadi. Kesenjangan ekonomi dan hak politik ikut mendorong massa yang telah mengklaim sebuah ideologi-agama atau politik-sebagai miliknya yang benar, lalu bertindak anarkis.

Para teoretisi faham kontemporer semisal Kaplan dan Lasswell menjustifikasi adanya korelasi antara harapan massa, tingkat kesadaran nilai, dan instabilitas politik sebagai dominat factors munculnya kekerasan. Kekerasan dapat mengambil bentuk struktural dan personal. Kekerasan struktural bersifat statis tidak kelihatan dan terkesan stabil. Sebaliknya, kekerasan personal bersifat dinamis, terjadi fluktuasi yang berakibat terjadinya perubahan. Kekerasan personal akan menjadi perhatian publik di masyarakat yang statis, sedangkan kekerasan struktural dianggap wajar. Paradoks dengan itu, dalam masyarakat dinamis, kekerasan struktural akan lebih mudah dipantau dan kekerasan personal dianggap membahayakan.

Setiap kali terjadi tindakan kekerasan, pihak yang selalu disalahkan adalah pelaku, dan tidak lazim pemerintah mengafirmasi, kekerasan itu sebagai tanggung jawab, atau bagian dari kelemahan sistem politik, ketidakberdayaan SDM dan ekonomi mayoritas masyarakat Indonesia. Salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam setiap kekerasan (termasuk saat kampanye) adalah menganalisis tingkat kemakmuran dan keterampilan masyarakat.

Rendahnya mutu kehidupan dan tingkat pendidikan berdampak pada persepsi mereka tentang kehidupan berpolitik, atau proses pembangunan demokrasi, apalagi dalam masa transisi sekarang.
Tali-temali antara kedewasaan berpolitik dan respons terhadap aktivitas kampanye menjadi destruktif, saat budaya KKN merajalela, tingkat pengangguran kian tinggi, pencalonan politisi busuk, penggunaan ijazah palsu oleh para caleg, dan kepercayaan kepada politisi mencapai titik nadir.

Faktor-faktor ini di negara berkembang sering dipandang sepele karena massa pendukung dapat "dibeli" dengan janji dan uang. Karena politisi membutuhkan pendukung dan massa tidak memiliki pilihan (hidup), maka mode of bargaining serupa gampang diperjualbelikan. Praktik money politic mengindikasikan lemahnya sistem politik yang berlalu, rendahnya pemahaman berpolitik juga bukti kelemahan negara, akibatnya massa mudah terpicu melakukan tindak anarkis meski oleh isu lokal sekalipun.

Inilah yang terjadi di negara kita sekarang, dan pertanyaan besarnya adalah : " apakah kita termasuk kedalam salahsatu diantaranya?"

mari kita merenung dengan apa yang telah kita lakukan????